Bila orang-orang berusaha menggagas universalitas untuk mempermudah sebuah informasi dipahami orang lintas budaya dan bahasa, yang ini justru berangkat dari hal yang berbeda. Bahwa bahasa universal ujung-ujungnya bisa dianggap sebuah pemaksaan (baca: penjajahan) perlu dihindari, maka bolehlah untuk merayakan lokalitas di sini. Terlebih di tempat yang anomali, domain publik sekaligus privat (karena aktifitas di dalamnya
). Untuk yang tidak familiar, “wedok” artinya cewek dan “lanang” artinya cowok, . A la bahasa Jawa Surabaya yang kental. Semoga Tuhan melindungi bentuk-bentuk ‘penolakan universalitas’ semacam ini untuk memperpanjang usia-usia bahasa lokal yang akan segera digantikan oleh ikon dan agama bahasa bilingual. Atas nama modernisasi, atau semacamnya. Padahal kalau dipikir-pikir, melakukan aktifitas MCK di pinggir kali memang akan sulit dipahami oleh orang-orang di negara lain, sehingga hal tersebut menang tidak punya nilai universal, kecuali di beberapa negara tertentu seperti India (yang mandi, cuci dan melakukan ritual keagamaan lain di Sungai Gangga). Dan untuk itu mereka harus berusaha memahami konteks wedok dan lanang itu sebagai sebuah kenyataan lain, yang unik dan hanya ada di sini, paling tidak pada abad sekarang. Bila tertarik mengekplorasi lagi, TKP adalah di daerah Kalikepiting, Surabaya.
9 Apr
TOILET PUBLIK PINGGIR KALI
25 Mar
ORANG-ORANG BERDASI DI PEREMPATAN JALAN
Bapak saya orang yang sangat rapi jali saat ke kantor. Aku ingat beliau pernah marah-marah karena orang yang bantu-bantu nyetrika di rumah kami tidak mengikuti instruksi beliau menyetrika celana dinas coklatnya, sehingga meninggalkan tanda garis sepanjang paha sampai tulang kering. Tugasku jaman SMP adalah menyemir sepatu, “sampai lalat kepeleset” katanya kalau aku tanya apakah hasil kerjaku sudah cukup. Kepala sabuk akan digosoknya dengan braso dan mengkilap menyilaukan. Di masa-masa itu, pernah sekali beliau cerita tentang filosofi dasi. Apapun gaya dasimu, windsor, half windsor atau four in hand… dasi itu dipake oleh orang-orang yang bisa dipercaya. Makanya kalo dasi ditarik, tidak ada simpul mati, filosofinya orang itu mempertaruhkan kepalanya saat dia tampil berdasi.
Belakangan, tidak secara serentak di seluruh Indonesia, aku melihat banyak orang-orang berdasi di perempatan dan persimpangan ramai. Meneriakkan janji dan sesumbar. Aku hanya menunggu. Mereka orang yang paham arti tampil dengan dasi, atau berpose seperti orang berdasi. Mungkin bukan cuma masalah dasi, tapi janji yang dimaktubkan termasuk janji sulit. Tapi, siapa tau?
22 Mar
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!