Menjelang leg 1 digulirkan saya menyempatkan ke Gelora Sepuluh Nopember, Tambaksari Surabaya. untuk meliat kegiatan ekonomi yang terjadi disana. Kegiatan ekonomi yang tersengat oleh antusiasme prestasi timnas yang moncer di AFF.
Kostum dijual seharga 30 ribu beberapa minggu lalu, awal kompetisi digelar, dan melonjak 50 rb menjelang final. Itu harga untuk yang kw sekian. Kalo Anda pake kata kunci “multi” atau “seven star” siap-siap merogoh kocek lebih dalam.
Tak hanya kostum, syal juga ikut meroket. Seorang penjual dengan nada spekulatif berusaha menawarkan barang ini 100 selembar. Plis, bos… itu agak berlebihan
Nama yang banyak ditemui di punggung kostum adalah Gonzales dan Irfan. Mungkin faktor eksposur besar-besaran dari semua lini dan acara di media adalah penyebabnya. Menurutku, kurang bagus untuk tim, mengingat mereka bekerja bersama-sama. Tapi agama bisnis adalah uang, yang tak punya prospek pasar boleh disimpan dulu. Beberapa pembeli ingin lebih customize. “Pak bisa minta yang namanya Irfan tapi nomernya 12″.
Rata-rata para penjual mengambil barang ini dari distributor yang sama. Mereka harus datang sepagi mungkin untuk mendapat desain yang diinginkan pembelinya. “Lebih panjang dari antrian sembako, cak” kata salah satu dari mereka dengan kumis tebal dan logat Maduranya yang kental.
Datang sekeluarga, bapak – ibu 3 anaknya yang berusia antara 20-30an. Mereka lebih suka desain polo shirtnya. “Lebih keren dipake nonton bareng”, katanya. Jaket timnas adalah produk paling menjengkelkan yang mereka tawarkan. Tampang penjualnya sudah berbinar-binar seolah orang akan mau menawarnya, “Ayo, mas… kw 1… 450 rb”. Edan. Barang itu paling cuma berharga 70-80 ribu. Ini benar-benar panen raya bagi mereka. Semoga pada dapat untung deh, bos.
Ibu dan anak membongkat-bongkar baju yang ditata di gantungan, pembeli melihat dengan tampang antara antusias dan kesal. Antusias bila dibeli. Kesal bila tidak berujung transaksi. “Ojo milih-milih thok, Bu”. Hahahaha. Anda perlu lebih sabar melayani konsumen yang makin pintar.
Oh ya, sebelum pulang aku sempatkan beli 1 kostum kandang. Merah dan tentu dengan garuda di dada. Aksen strip hijau di kedua lengan. Tercapai kesepakatan 45 ribu rupiah. “Yang itu ada ukuran besarnya, Bung Hally!” si penjual mulai gak konsen. Bertransaksi dengan aku tapi matanya melayani pembeli yang baru datang. Nama “Hally” agak tidak umum di Surabaya, tapi tidak di Gelora Tambaksari. Aku coba konfirmasi, “Itu Hally Maura ya Cak?”. Dan benar, beliau adalah Hally Maura, gelandang Persebaya era 80-85-an, era Persebaya juara divisi utama dengan kode operasi “Green Force”.. Beliau nampak tetap bugar dengan stelan kuning jersey sepeda. Beberapa menit aku mau mengajaknya foto bersama, siapkan kamera hp dan… low bat, turn off. Ah asem. Tapi paling tidak, setelah lama pensiun, kecintaan seorang atlit pada dunia yang dia pernah meraih impian di dalamnya tidak luntur. Ok aku juga harus pulang. Bersepeda dan tas plastik berisi kostum merah dengan garuda di dadanya. Semoga final leg 2 besok adalah milik kita.
Lepas dari kekalahan mereka di Bukit Jalil kemarin, ini adalah sisi yang mungkin tidak termasuk dalam hal dipikirkan Alfred Riedl, si pelatih. Apalagi masuk dalam bagian dari strateginya melawan Malaysia di GBK, 29 Desember 2010 besok. Tapi aku rasa dia pasti tau bagaimana cara mengakhiri tahun 2010 dengan indah. Dan yang bisa kita lakukan adalah memberikan semangat meski lewat TV. Dan jersey timnas bisa jadi cara yang lain. /r/a/m/






Posted by said on Desember 29, 2010 at 02:22
wow, cukup bola indonesia menggelinding ke gawang lawan saja segala macam aspek turut menggelinding termasuk perokonomian..
Posted by ramok on Desember 30, 2010 at 02:38
ya, dan itu akan jadi kontribusi timnas di luar jalur prestasi bola mereka…
Posted by Tunjung on April 8, 2011 at 17:37
Kapan bukan hanya attribute yang di jual meroket, tapi industri bola yang jujur juga di jual meroket?
Posted by ramok on April 11, 2011 at 03:53
Nah itu dia bung Tunjung… biarlah sekarang organisasinya melakukan pembenahan, dikawal oleh jutaan pasang mata rakyat Indonesia. Karena terbukti kemarin, ketika semua semakin tidak beres, toh masyarakat juga bisa langsung melakukan ‘pengadilan jalanan’….