REVIEW: PELURU YANG DIHILANGKAN

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi )Aku Ingin Jadi Peluru by Wiji Thukul
My rating: 5 of 5 stars

Buku ini sangat unik, kalau bukan ironis. Penulis dan yang memberi pengantar adalah korban. Wiji Thukul adalah aktivis demonstrasi jaman Soeharto yang tidak pernah absen bicara untuk corong kaum terinjak, masuk dalam daftar orang yang hilang di masa demo. Si pengantar, Cak Munir adalah aktivis HAM yang dihilangkan nyawanya dan kasusnya masih remang samapai sekarang. Jika masih hidup dan duduk satu meja, aku yakin keduanya akan saling melontar salut. Cak Munir nampak sangat terkesan dengan bentuk perlawanan yang mengalir dari setiap laku, ucap dan ekspresi puisi Wiji Thukul. Simak apa yang ditulis Cak Munir untuk Wiji Thukul: “Tampaknya dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat.”

Wiji Thukul sendiri tidak perlu dipertanyakan keberpihakannya pada semua aktivitas yang menuntut keadilan. Semua puisinya adalah lukisan gap sosial yang pura-pura tidak kita lihat. Seperti teriakannya pada penguasa, cumbu rayu pada istrinya atau saat mengenang ibunya, semua dialiri gelora perlawanan kelasnya. Siapa tak kenal dengan puisi berikut, yang menurut Munir lebih terkenal daripada Wiji Thukul sendiri:

PERINGATAN

jika rakyat pergi/ketika penguasa pidato/kita harus hati-hati/ barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi/dan berbisik-bisik/ketika membicarakan masalahnya sendiri/ penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh/ itu artinya sudah gawat/ dan bila omongan penguasa/ tidak boleh dibantah/ kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang/ suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/ dituduh subversif dan mengganggu keamanan/ maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo,1986

Larik terakhir adalah teks wajib di kaos setiap demonstran. Dan buku ini mungkin jadi satu-satunya jejak perlawanan Wiji Thukul sejak dia dihilangkan penguasa karena aksinya. Ketika membaca ini, aku adalah darah yang mengalir deras dan panas. Dan siapapun akan kembali mengucapkannya lamat-lamat: LAWAN!!!

View all my reviews

2 tanggapan untuk posting ini.

  1. Posted by choirina on Desember 24, 2010 at 14:56

    review yang menarik pak, saya juga tertarik untuk baca buku ini, puisi yang bener2 bernyawa.:D

    Balas

  2. Posted by ramok on Desember 30, 2010 at 02:46

    Ketika puisi tertulis, dia jadi milik siapa saja… bahkan ketika penulisnya sudah ‘dihilangkan’… Saya punya kalo berminat baca.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.