Kenaifan seorang anak adalah suatu tempat yang sakral bagi saya, tempat yang sebaiknya tak banyak kita ikut campur di dalamnya. Saya percaya, kondisi itu yang akan dapat memunculkan keberaniannya mengemukakan apa yang dia rasakan. Itu adalah satu hal. Lalu munculah orang tua, teman-teman, ruang. Lingkungan yang membantu si anak bertukar nilai dan pandangan-pandangannya tentang dunia yang belum lama dia cerap. Itu menjadi hal lain. Interaksi dengan hal-hal itu yang kemudian terinternalisasi menjadi bagian dari gagasan-gagasan si anak. Gagasan-gagasan itu tumpah di dinding-dinding rumah kami pada awalnya. Mungkin seperti itulah cara menuang gagasan yang paling purba, di dinding tempat tinggal. Bahkan setelah kertas diciptakan. Yang saya ingat, dinding kamar kami adalah kanvas pertama anak saya, Seruni Jasmine. Anak yang akan kita bicarakan hasil-hasil perbuatannya 3 tahun belakangan.
Kami pulang lebih awal sore itu, 2 orang teman akan datang berkunjung. Yang satu Kat namanya. Yang lain -gak tau kenapa kenapa- takut namanya disebut dan diambil gambarnya. Tapi karena tak ada alasan keamanan yang mendesak saya sebut saja namanya Budi, daripada tertulis sebagai oknum AB. Baiklah, Kat dan Budi mengunjungi rumah kami yang sederhana dan berantakan sehari-harinya, tapi mendadak kami rapikan karena kunjungan mereka. Mungkin juga tetap terlihat berantakan bagi teman-teman kami itu. Kita ngobrol-ngobrol singkat tentang gambar-gambar Jasmine, yang pernah dilihat oleh Budi pada kunjungan sebelumnya. Dari obrolan hari itu, timbul ide untuk membuat pameran kecil di C2O, sebuah perpustakaan yang ada di jantung kota Surabaya. Menurut saya, itu tempat itu adalah salah satu kantung kreatif andalan Surabaya yang selalu punya aktifitas dan konsep kegiatan menarik.
Setelah beberapa kali bertemu, saya baru tau C2O sedang menyusun kegiatan yang diberi label menarik: EAT PLAY LAUGH. Rangkaian aktifitas selama bulan Juli untuk merayakan hari anak. Baiklah, ini bulan anak. Anak-anak dunia yang kita muliakan. Mungkin gagasannya semacam ekstraksi dari apapun yang dilakukan anak untuk menemukan kenyamanan dalam dirinya. Mereka makan ketika lapar, bermain apapun keadaannya untuk dapat menuai tawa. Menarik bukan? saya sudah katakan sebelumnya. Pengucapannya terdengar seperti twist dari ‘eat pray love’, film yang sebagian prosesnya dibuat di Bali, dan novel yang saya liat di beberapa toko buku belakangan. Karena belum baca dan nonton, saya tak tau mana yang lebih dulu muncul. Pada perjumpaan yang kesekian, Budi memberitahukan judul pameran untuk Jasmine adalah TRANCEFORMER. Ide yang mungkin sudah Bung Budi diperam dari diskusi-diskusi berdurasi singkat sebelum-sebelumnya. Baik yang mengacu pada proses kreatif Jasmine dalam menghasilkan gambar-gambarnya maupun tema-tema yang mendominasi setiap gambar di awal-awal proses pengumpulan karya.
Kami memiliki kebiasaan menyimpan karya-karya yang oleh si pembuat sudah dianggap sampah. Jasmine memang masih berkarya dengan naluri, yang dia ekstrak dan di-blender dari pengalamannya, dari interaksinya dengan lingkungan, teman, film, buku, sekolah atau kami orang tuanya. Selama proses ini terkumpul lebih dari 25 judul komik. Jangan bayangkan komik yang Anda beli dengan 11 ribu rupiah. Komik Jasmine adalah kertas A4 yang dia lipatdua menjadi A5 dan memperlakukannya seperti buku. Jadi polanya memang menggores lalu dilempar begitu saja. Karena berantakan, untuk presentasi pameran, komik-komik itu diberi cover yang diambil dari gambar-gambar dan tulisan tangan si pembuat. Hampir semua dibuat dengan gaya line-art, sangat minim warna, kalopun tidak bisa dibilang tidak berwarna. Karya lain dibuat di sekolah, dan karenanya jadi berwarna. Jasmine cukup lincah memainkan warna, tetapi nampaknya lebih menikmati coretan hitam yang cenderung cepat diproduksi dan ide-idenya tidak perlu antri terlalu lama untuk bisa terlontar. Figur Batman, robot-robot di Transformers, Toys Story banyak muncul dalam karyanya yang berbentuk komik. Bukan tanpa sebab, dia bisa menonton film-film itu 3-4 kali sehari bila sedang berminat. Mungkin banyak yang tertinggal di ingatannya yang selonggar kertas putih. Belum terlalu tumpang tindih dengan setumpuk rekening bulanan atau tugas-tugas organisasi. Cukup longgar untuk menyimpan teks-teks terjemahan bahasa malaysia pada beberapa film. Seperti Poison Ivy yang tiba-tiba menghujat Batman: “Teruk!”
Baiklah, hingga sampai kita di sore yang cerah itu, 16 Juli 2011. Pameran ini akan dibuka. Beberapa teman berdatangan. Teman kami. Karena belum dibuka secara resmi, beberapa orang yang sudah datang langsung melihat-lihat panel demi panel, yang lain mengeksplorasi C2O library. Memang beberapa orang diantaranya baru pertama kali berkunjung. Jasmine datang agak terlambat, dengan t-shirt hijau dan inisial namanya berukuran besar, kuning tercetak di dada. Menjumpai teman-temannya dulu karena beberapa diantaranya cukup lama tidak bersua. Kat, Bung Budi menyebutnya ibu pemilik galeri membuka acara dengan beberapa informasi tentang program C2O bulan Juli. Lalu dilanjutkan Bung Budi yang menyebut dirinya makelar pameran. Rasanya cukup keren untuk label di kartu nama. Sayang istilah makelar sudah terlanjur tersubordinasi dalam konotasi kurang sedap. Tak apalah, beliau yang memil ih. Saya bicara sedikit. Tapi bisa jadi terlalu banyak bagi beberapa orang yang sudah menunggu acara dimulai. Berikutnya kita membiarkan si penggambar bicara. “Aku suka menggambar”. Kata-kata pertamanya. Suaranya kecil tapi cukup mampu membuat saya terkejut, dia maju dengan tenang. Tapi mukanya tegang. Dia dulu suka menggambar dengan warna, katanya. “Tapi kata ayahku, gambarku bagus kalo hitam putih”. Hahahaha. Baiklah, lain kali aku akan diam soal pilihan-pilihanmu. Hahahaha. Tak banyak yang dia sampaikan tapi saya senang dia sudah melakukan bagiannya dengan baik. Teman saya, Pak Ivan Hariyanto, seorang pelukis, bicara sesudahnya. Suaranya memang menggelegar dengan atau tanpa pengeras suara. Pak Ivan bicara tentang kebutuhan kita akan ruang apresiasi bagi seni rupa anak. Wajahnya banyak dihadapkan ke murid-muridnya di SMKN 11 yang sore itu digerakkannya untuk hadir. Beliau mengajar melukis di sana. Saya rasa itu juga sebuah bentuk motivasi pada mereka.
Setelah itu audiens dipersilahkan menikmati hidangan visual Jasmine. Karya biasa seperti anak-anak kebanyakan. Hanya saja memang membutuhkan keberanian, bagi dia sendiri dan bagi kami. Karena itu, kami menganggap sore itu sebagai sebuah pesta kecil merayakan keberaniannya. Keberanian kita semua. Untuk semua yang terjadi, kami berterima kasih pada Kathleen Azali dan tim di C2O library, serta bung Budi yang atas pertimbangan keselamatan akan saya sebut namanya: Andriew Budiman, desainer Butawarna. Perayaan keberanian ini terhelat tanggal 16 Juli hingga kelak 31 Juli 2011.
Semoga kita tetap senang seperti sore itu.





















