TRANCEFORMER: menyemai gagasan, menuai keberanian Jasmine

Kenaifan seorang anak adalah suatu tempat yang sakral bagi saya, tempat yang sebaiknya tak banyak kita ikut campur di dalamnya. Saya percaya, kondisi itu yang akan dapat memunculkan keberaniannya mengemukakan apa yang dia rasakan. Itu adalah satu hal. Lalu munculah orang tua, teman-teman, ruang. Lingkungan yang membantu si anak bertukar nilai dan pandangan-pandangannya tentang dunia yang belum lama dia cerap. Itu menjadi hal lain. Interaksi dengan hal-hal itu yang kemudian terinternalisasi menjadi bagian dari gagasan-gagasan si anak. Gagasan-gagasan itu tumpah di dinding-dinding rumah kami pada awalnya. Mungkin seperti itulah cara menuang gagasan yang paling purba, di dinding tempat tinggal. Bahkan setelah kertas diciptakan. Yang saya ingat, dinding kamar kami adalah kanvas pertama anak saya, Seruni Jasmine. Anak yang akan kita bicarakan hasil-hasil perbuatannya 3 tahun belakangan.

Kami pulang lebih awal sore itu, 2 orang teman akan datang berkunjung. Yang satu Kat namanya. Yang lain -gak tau kenapa kenapa- takut namanya disebut dan diambil gambarnya. Tapi karena tak ada alasan keamanan yang mendesak saya sebut saja namanya Budi, daripada tertulis sebagai oknum AB. Baiklah, Kat dan Budi mengunjungi rumah kami yang sederhana dan berantakan sehari-harinya, tapi mendadak kami rapikan karena kunjungan mereka. Mungkin juga tetap terlihat berantakan bagi teman-teman kami itu. Kita ngobrol-ngobrol singkat tentang gambar-gambar Jasmine, yang pernah dilihat oleh Budi pada kunjungan sebelumnya. Dari obrolan hari itu, timbul ide untuk membuat pameran kecil di C2O, sebuah perpustakaan yang ada di jantung kota Surabaya. Menurut saya, itu tempat itu adalah salah satu kantung kreatif andalan Surabaya yang selalu punya aktifitas dan konsep kegiatan menarik.

Undangan Pembukaan Pameran Tranceformer

Setelah beberapa kali bertemu, saya baru tau C2O sedang menyusun kegiatan yang diberi label menarik: EAT PLAY LAUGH. Rangkaian aktifitas selama bulan Juli untuk merayakan hari anak. Baiklah, ini bulan anak. Anak-anak dunia yang kita muliakan. Mungkin gagasannya semacam ekstraksi dari apapun yang dilakukan anak untuk menemukan kenyamanan dalam dirinya. Mereka makan ketika lapar, bermain apapun keadaannya untuk dapat menuai tawa. Menarik bukan? saya sudah katakan sebelumnya. Pengucapannya terdengar seperti twist dari ‘eat pray love’, film yang sebagian prosesnya dibuat di Bali, dan novel yang saya liat di beberapa toko buku belakangan. Karena belum baca dan nonton, saya tak tau mana yang lebih dulu muncul. Pada perjumpaan yang kesekian, Budi memberitahukan judul pameran untuk Jasmine adalah TRANCEFORMER. Ide yang mungkin sudah Bung Budi diperam dari diskusi-diskusi berdurasi singkat sebelum-sebelumnya. Baik yang mengacu pada proses kreatif Jasmine dalam menghasilkan gambar-gambarnya maupun tema-tema yang mendominasi setiap gambar di awal-awal proses pengumpulan karya.

Kami memiliki kebiasaan menyimpan karya-karya yang oleh si pembuat sudah dianggap sampah. Jasmine memang masih berkarya dengan naluri, yang dia ekstrak dan di-blender dari pengalamannya, dari interaksinya dengan lingkungan, teman, film, buku, sekolah atau kami orang tuanya. Selama proses ini terkumpul lebih dari 25 judul komik. Jangan bayangkan komik yang Anda beli dengan 11 ribu rupiah. Komik Jasmine adalah kertas A4 yang dia lipatdua menjadi A5 dan memperlakukannya seperti buku. Jadi polanya memang menggores lalu dilempar begitu saja. Karena berantakan, untuk presentasi pameran, komik-komik itu diberi cover yang diambil dari gambar-gambar dan tulisan tangan si pembuat. Hampir semua dibuat dengan gaya line-art, sangat minim warna, kalopun tidak bisa dibilang tidak berwarna. Karya lain dibuat di sekolah, dan karenanya jadi berwarna. Jasmine cukup lincah memainkan warna, tetapi nampaknya lebih menikmati coretan hitam yang cenderung cepat diproduksi dan ide-idenya tidak perlu antri terlalu lama untuk bisa terlontar. Figur Batman, robot-robot di Transformers, Toys Story banyak muncul dalam karyanya yang berbentuk komik. Bukan tanpa sebab, dia bisa menonton film-film itu 3-4 kali sehari bila sedang berminat. Mungkin banyak yang tertinggal di ingatannya yang selonggar kertas putih. Belum terlalu tumpang tindih dengan setumpuk rekening bulanan atau tugas-tugas organisasi. Cukup longgar untuk menyimpan teks-teks terjemahan bahasa malaysia pada beberapa film. Seperti Poison Ivy yang tiba-tiba menghujat Batman: “Teruk!”

Jasmine dan presentasi (sangat) singkat tentang karyanya. Yang penting berani dulu.

Baiklah, hingga sampai kita di sore yang cerah itu, 16 Juli 2011. Pameran ini akan dibuka. Beberapa teman berdatangan. Teman kami. Karena belum dibuka secara resmi, beberapa orang yang sudah datang langsung melihat-lihat panel demi panel, yang lain mengeksplorasi C2O library. Memang beberapa orang diantaranya baru pertama kali berkunjung. Jasmine datang agak terlambat, dengan t-shirt hijau dan inisial namanya berukuran besar, kuning tercetak di dada. Menjumpai teman-temannya dulu karena beberapa diantaranya cukup lama tidak bersua. Kat, Bung Budi menyebutnya ibu pemilik galeri membuka acara dengan beberapa informasi tentang program C2O bulan Juli. Lalu dilanjutkan Bung Budi yang menyebut dirinya makelar pameran. Rasanya cukup keren untuk label di kartu nama. Sayang istilah makelar sudah terlanjur tersubordinasi dalam konotasi kurang sedap. Tak apalah, beliau yang memil ih. Saya bicara sedikit. Tapi bisa jadi terlalu banyak bagi beberapa orang yang sudah menunggu acara dimulai. Berikutnya kita membiarkan si penggambar bicara. “Aku suka menggambar”. Kata-kata pertamanya. Suaranya kecil tapi cukup mampu membuat saya terkejut, dia maju dengan tenang. Tapi mukanya tegang. Dia dulu suka menggambar dengan warna, katanya. “Tapi kata ayahku, gambarku bagus kalo hitam putih”. Hahahaha. Baiklah, lain kali aku akan diam soal pilihan-pilihanmu. Hahahaha. Tak banyak yang dia sampaikan tapi saya senang dia sudah melakukan bagiannya dengan baik. Teman saya, Pak Ivan Hariyanto, seorang pelukis, bicara sesudahnya. Suaranya memang menggelegar dengan atau tanpa pengeras suara. Pak Ivan bicara tentang kebutuhan kita akan ruang apresiasi bagi seni rupa anak. Wajahnya banyak dihadapkan ke murid-muridnya di SMKN 11 yang sore itu digerakkannya untuk hadir. Beliau mengajar melukis di sana. Saya rasa itu juga sebuah bentuk motivasi pada mereka.

Jasmine dan Icha, temannya sejak masih bayi ikut hadir sore itu

Setelah itu audiens dipersilahkan menikmati hidangan visual Jasmine. Karya biasa seperti anak-anak kebanyakan. Hanya saja memang membutuhkan keberanian, bagi dia sendiri dan bagi kami. Karena itu, kami menganggap sore itu sebagai sebuah pesta kecil merayakan keberaniannya. Keberanian kita semua. Untuk semua yang terjadi, kami berterima kasih pada Kathleen Azali dan tim di C2O library, serta bung Budi yang atas pertimbangan keselamatan akan saya sebut namanya: Andriew Budiman, desainer Butawarna. Perayaan keberanian ini terhelat tanggal 16 Juli hingga kelak 31 Juli 2011.

Semoga kita tetap senang seperti sore itu.

Audiens di Zona Postc-Art

Audiens di Zona Komik

Zona Scrapbook. Berisi diary visual dan original artwork.

BISNIS GARUDA DI DADA

Menjelang leg 1 digulirkan saya menyempatkan ke Gelora Sepuluh Nopember, Tambaksari Surabaya. untuk meliat kegiatan ekonomi yang terjadi disana. Kegiatan ekonomi yang tersengat oleh antusiasme prestasi timnas yang moncer di AFF.

Buka sepagi mungkin

Kostum dijual seharga 30 ribu beberapa minggu lalu, awal kompetisi digelar, dan melonjak 50 rb menjelang final. Itu harga untuk yang kw sekian. Kalo  Anda pake kata kunci “multi” atau “seven star” siap-siap merogoh kocek lebih dalam.

Tak Hanya Kostum

Tak hanya kostum, syal juga ikut meroket. Seorang penjual dengan nada spekulatif berusaha menawarkan barang ini 100 selembar. Plis, bos… itu agak berlebihan

Garuda di Dada, Idola di Punggung

Nama yang banyak ditemui di punggung kostum adalah Gonzales dan Irfan. Mungkin faktor eksposur besar-besaran dari semua lini dan acara di media adalah penyebabnya. Menurutku, kurang bagus untuk tim, mengingat mereka bekerja bersama-sama. Tapi agama bisnis adalah uang, yang tak punya prospek pasar boleh disimpan dulu. Beberapa pembeli ingin lebih customize. “Pak bisa minta yang namanya Irfan tapi nomernya 12″.

Daya Magis Nomer Favorit

Rata-rata para penjual mengambil barang ini dari distributor yang sama. Mereka harus datang sepagi mungkin untuk mendapat desain yang diinginkan pembelinya. “Lebih panjang dari antrian sembako, cak” kata salah satu dari mereka dengan kumis tebal dan logat Maduranya yang kental.

Dipilih! dipilih!

Datang sekeluarga, bapak – ibu 3 anaknya yang berusia antara 20-30an. Mereka lebih suka desain polo shirtnya. “Lebih keren dipake nonton bareng”, katanya. Jaket timnas adalah produk paling menjengkelkan yang mereka tawarkan. Tampang penjualnya sudah berbinar-binar seolah orang akan mau menawarnya, “Ayo, mas… kw 1… 450 rb”. Edan. Barang itu paling cuma berharga 70-80 ribu. Ini benar-benar panen raya bagi mereka. Semoga pada dapat untung deh, bos.

Anak mau, ibu memilih, ibu bayar

Ibu dan anak membongkat-bongkar baju yang ditata di gantungan, pembeli melihat dengan tampang antara antusias dan kesal. Antusias bila dibeli. Kesal bila tidak berujung transaksi. “Ojo milih-milih thok, Bu”. Hahahaha. Anda perlu lebih sabar melayani konsumen yang makin pintar.

Oh ya, sebelum pulang aku sempatkan beli 1 kostum kandang. Merah dan tentu dengan garuda di dada. Aksen strip hijau di  kedua lengan. Tercapai kesepakatan 45 ribu rupiah. “Yang itu ada ukuran besarnya, Bung Hally!” si penjual mulai gak konsen. Bertransaksi dengan aku tapi matanya melayani pembeli yang baru datang. Nama “Hally” agak tidak umum di Surabaya, tapi tidak di Gelora Tambaksari. Aku coba konfirmasi, “Itu Hally Maura ya Cak?”. Dan benar, beliau adalah Hally Maura, gelandang Persebaya era 80-85-an, era Persebaya juara divisi utama dengan kode operasi “Green Force”..  Beliau nampak tetap bugar dengan stelan kuning jersey sepeda. Beberapa menit aku mau mengajaknya foto bersama, siapkan kamera hp dan… low bat, turn off. Ah asem. Tapi paling tidak, setelah lama pensiun, kecintaan seorang atlit pada dunia yang dia pernah meraih impian di dalamnya tidak luntur. Ok aku juga harus pulang. Bersepeda dan tas plastik berisi kostum merah dengan garuda di dadanya. Semoga final leg 2 besok adalah milik kita.

Lepas dari kekalahan mereka di Bukit Jalil kemarin, ini adalah sisi yang mungkin tidak termasuk dalam hal dipikirkan Alfred Riedl, si pelatih. Apalagi masuk dalam bagian dari strateginya melawan Malaysia di GBK, 29 Desember 2010 besok. Tapi aku rasa dia pasti tau bagaimana cara mengakhiri tahun 2010 dengan indah. Dan yang bisa kita lakukan adalah memberikan semangat meski lewat TV. Dan jersey timnas bisa jadi cara yang lain. /r/a/m/

PRE-SURAMADU

Laut: bubar kerja

Satu persatu meninggalkan rig

Sebelum Suramadu bisa digunakan, inilah beberapa potret yang sempat terekam. Tentang mereka yang memberikan keringatnya agar jembatan antarpulau ini terhubung.  Saya datang agak terlalu senja. Matahari sudah terlanjur pulang dan itu tidak ada dalam rencana. Terlambat ini juga masalah ijin akses. Beberapa kawan di PU memberi banyak bantuan untuk bisa masuk ke main span. Jam kerja sebagian besar dari mereka sudah selesai. “Laut! Laut!”… beberapa orang, mungkin usianya belasan mengajak teman-temannya menyelesaikan pekerjaannya dan pulang. Bila shift sudah berakhir, mereka makan dan pulang baik ke arah Bangkalan maupun Surabaya.

It's Tough being This Cool

Namanya Mujiono. Orang yang membuat langkah bersejara, setidaknya di mata teman-temannya. Di hari pertama sisi Surabaya dan Bangkalan terhubung, dia pulang ke rumahnya di Bangkalan dengan berjalan kaki lewat jembatan itu. Dia orang Nganjuk yang berjodoh dengan perempuan Bangkalan. Aku membayangkan langkahnya seperti Neil Armstrong dalam skala lebih kecil. Tapi tidak sekecil skala 2 kota, dia berjalan kaki diatas 2 pulau.

Afterhours

 

Temannya yang asyik diajak menyulut 1-2 batang rokok sebelum pulang itu Tugiran. Tadinya mereka asyik mengobrol. Lihat kamera, agak-agak pasang aksi. Tapi setelah beberapa menit mereka ngobrol ngalor ngidul lagi sesekali berteriak. Seperti mengeluh, atau mungkin juga gembira, jembatan hampir selesai. Aku teringat mereka setiap kali melewati Suramadu. Lebih-lebih kaos Mujiono yang berteriak lantang: It’s Tough Being This Cool.   / ram /

REVIEW: YANG BERSENANG-SENANG DENGAN KATA

Dalam Rahim Ibuku Tak Ada AnjingDalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing by Afrizal Malna
My rating: 4 of 5 stars

I’ve been reading Afrizal since 1999 because a kindness of my friend who has a passion to visualize his poems into painting media. This book, as usual, with the brutality of word, collage, overlapping one to each other words and meaning, and cool special effects. Sarcastic too. As his previous works, meaning always become a house with multiple doors and it let open. What I felt was something energic flew in every words.

Aku membaca sajak-sajak Afrizal sejak 1999 karena seorang teman begitu semangat menjadikan puisi-puisinya ke dalam visualisasi lukisannya. Dan buku ini, lengkap dengan kegarangan kata yang masih seperti dulu, penuh kejutan, kolase, tumpang tindih dan spesial efek yang canggih. Juga sarkastik. Seperti biasa pula, makna selalu jadi rumah berpintu jamak dan dibiarkan terbuka. Yang aku rasakan adalah sesuatu yang enerjik mengalir di setiap kata.

View all my reviews

REVIEW: PELURU YANG DIHILANGKAN

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi )Aku Ingin Jadi Peluru by Wiji Thukul
My rating: 5 of 5 stars

Buku ini sangat unik, kalau bukan ironis. Penulis dan yang memberi pengantar adalah korban. Wiji Thukul adalah aktivis demonstrasi jaman Soeharto yang tidak pernah absen bicara untuk corong kaum terinjak, masuk dalam daftar orang yang hilang di masa demo. Si pengantar, Cak Munir adalah aktivis HAM yang dihilangkan nyawanya dan kasusnya masih remang samapai sekarang. Jika masih hidup dan duduk satu meja, aku yakin keduanya akan saling melontar salut. Cak Munir nampak sangat terkesan dengan bentuk perlawanan yang mengalir dari setiap laku, ucap dan ekspresi puisi Wiji Thukul. Simak apa yang ditulis Cak Munir untuk Wiji Thukul: “Tampaknya dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat.”

Wiji Thukul sendiri tidak perlu dipertanyakan keberpihakannya pada semua aktivitas yang menuntut keadilan. Semua puisinya adalah lukisan gap sosial yang pura-pura tidak kita lihat. Seperti teriakannya pada penguasa, cumbu rayu pada istrinya atau saat mengenang ibunya, semua dialiri gelora perlawanan kelasnya. Siapa tak kenal dengan puisi berikut, yang menurut Munir lebih terkenal daripada Wiji Thukul sendiri:

PERINGATAN

jika rakyat pergi/ketika penguasa pidato/kita harus hati-hati/ barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi/dan berbisik-bisik/ketika membicarakan masalahnya sendiri/ penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh/ itu artinya sudah gawat/ dan bila omongan penguasa/ tidak boleh dibantah/ kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang/ suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/ dituduh subversif dan mengganggu keamanan/ maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo,1986

Larik terakhir adalah teks wajib di kaos setiap demonstran. Dan buku ini mungkin jadi satu-satunya jejak perlawanan Wiji Thukul sejak dia dihilangkan penguasa karena aksinya. Ketika membaca ini, aku adalah darah yang mengalir deras dan panas. Dan siapapun akan kembali mengucapkannya lamat-lamat: LAWAN!!!

View all my reviews

REVIEW: PERSEPOLIS

Revolusi Iran: Dongeng Seorang AnakRevolusi Iran: Dongeng Seorang Anak by Marjane Satrapi
My rating: 5 of 5 stars

Graphic Novel ini ketemu gak sengaja. Dia didisplay di antara buku-buku agama Islam. Sungguh Aneh. Buku ini menyajikan salah satu gaya bertutur yang cukup memukau untuk menggambarkan ketegangan dan kepolosan seorang anak kecil (penulis memerankan dirinya sendiri) dengan latar belakang revolusi Iran di era 80-an. Secara lincah, Satrapi menggambarkan ‘rezim keagamaan’ dan pemikiran kritis seorang anak yang sedang tumbuh, silih berganti di setiap lembar halamannya. Dia juga menggambarkan dengan baik tentang bagaimana rezim berlatarbelakang agama mulai menerapkan kebijakan-kebijakan baru setelah meruntuhkan rezim yang sekuler. Anak ini kemudian memaknai satu demi satu peristiwa yang ada di hadapannya secara jujur, terlepas dari motif-motif yang berkembang di sekelilingnya. Gambarnya khas buku cerita anak-anak, tetapi dengan cair menggambarkan tema-tema yang sensitif. Satrapi dengan sangat berani mencoba menggambarkan perkembangan pikirannya di masa kanak-kanak, Tuhan yang selalu berdiskusi dengannya menjelang tidur dan hilang darinya saat dia membutuhkan, simbol-simbol keagamaan, kekerasan dengan cara yang cerdas. Bahkan terekam pula artefak 80-an seperti poster musisi Barat yang diharamkan beredar di Iran, kucing-kucingan dari aparat ketika ingin bergaya ‘kurang islami’. Belakangan, secara implisit digambarkan pula bagaimana Satrapi mendokumentasikan cerita hidupnya itu ke dalam novel grafis ini di pelarian. Yang aku baca ini adalah terbitan Resist Book, Jogjakarta. Entah bagaimana, buku ini mengingatkan aku pada Maus-nya Art Spiegelman.

View all my reviews

REVIEW: ANIMAL FARM

Animal FarmAnimal Farm by George Orwell
My rating: 5 of 5 stars

Saya teringat sebuah quote dari Picasso, “Seni adalah kebohongan, kebohongan yang mengungkap kebenaran”. Dan itu yang terasa ketika membaca novel yang sangat kuat menggambarkan politik kekerasan dalam sebuah institusi yang digerakkan dengan kekuasaan yang cenderung otoriter. Novel Orwell ini adalah novel pertamanya yang sempat saya baca. Novel yang sarat sindiran pada rezim totaliter di masa novel ini disusun bermula dari kisah pemberontakan hewan ternak di sebuah peternakan dipimpin oleh 2 ekor babi bernama Napoleon dan Snowball. Novel ini bicara tentang kekuasaan dan lingkaran kekuasaan yang mensejahterakan kroni-kroninya. Bicara juga tentang bagaimana praktek kekerasan dalam me-maintenance kekuasaan diterapkan, lengkap dengan propagandanya. Bagaimana sebuah kemenangan semu diraih, karena setelah kemenangan, rakyat binatang (di novel itu mereka menyebut dirinya binatang inggris) malah menemui rezim yang tidak lebih baik dari rezim manusia. Fabel politik ini layak dibaca bukan sebagai cemilan, tapi sebagai gong pengingat bila suatu saat Anda memegang kekuasaan dan duduk di kursi panas, Anda akan mendapati figur-figur yang digambarkan Orwell di sekeliling Anda, mungkin loyalis samapai mati seperti Boxer, si sinis dan penuh prasangka Benjamin, aparat anjing penegak kekuasaan atau domba pengembik dan penjilat. Kedetailannya menggambarkan suasana zaman itu sangat layak menjadikan karya ini masterpiece. Di situlah kemudian Picasso berbisik lamat-lamat di telingaku: “novel ini adalah fiksi, sebuah kebohongan, my friend… tapi lihat kebenaran yang dia ungkap sampai telanjang pada kita”. Yang saya baca adalah novel yang diterbitkan dalam edisi Indonesia oleh Fresh book, Yogyakarta. This book is highly recommended

View all my reviews

THE HUMAN PRINTERS

image from: www.humanprinter.org

Kita mulai dari sebuah nama, Loise Naunton Morgan, seniman asal Inggris. Karya-karyanya kebanyakan bicara tentang manusia-binatang-mesin. Lalu lewat perutnya dia lahirkan sekelompok manusia. Lantang mereka teriakkan ‘Beautifying The Art of Modern Printing’..  ya, sekelompok orang yang mencetak warna proses baik CMYK maupun spot dengan tangan telanjang. Dengan label The Human Printer, Louise dan kawan-kawan (bahkan melibatkan keluarganya) melakukan mimesis atas kerja mesin cetak, yang itu sendiri tiruan dari acuan cetak, yang juga tiruan dari foto yang berarti pula tiruan dari realita yang dibekukan pada sebuah momen. Sebuah keisengan bisa bermakna pengingkaran pada progresifitas dan modernitas, bisa juga sebuah pernyataan tentang kompleksitas manusia dan energi kreatifnya. Membalik kemudahan teknologi menjadi sebuah bantahan atas rasa estetik yang dihasilkan mesin. Rasanya, kata ‘beautyfing’ disitu adalah cara mereka menyatakan kualitas tangan-tangan manusia yang terlatih, bukan mesin yang selalu bekerja presisi. Melihat yang dilakukan The Human Printer, rasanya ini sebuah keisengan yang mereka nikmati dengan cara yang gurih (:D), termasuk bagaimana setiap Printer- cara mereka menyebut diri mereka, punya spesifikasinya masing-masing. Si cepat dan ceroboh, si lambat dan presisi, si cepat dan dapat diandalkan atau si printer paruh waktu. Kembali hal itu jadi sebuah tiruan pada mesin printer dari berbagai tipe dan merek. Dan tetap, sebagai sebuah cara menggerakkan perekonomian, The Human Printer punya harga yang dapat diakses lewat spesifikasi yang akan di… cetak, atau tepatnya di cetak manual. Atau, apalah namanya. Mereka ada di sini. /ram/

 

GEMAS DI GEMASTIK

EQ Presenter

Presenter Web EQuilibrium dari FEB UGM

Bagaimana masa depan dunia TIK kita? Kalau Anda ingin mengetahui lebih jauh,  bagaimana perkembangan kreatifitas mahasiswa di bidang TIK sempatkan mengunjungi GEMASTIK, sebuah even bidang TIK di gelar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember.  GEMASTIK, menggemaskan untuk dikunjungi karena merupakan Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang TIK.  Berbagai cabang dikompetisikan untuk membuat ajang persaingan penuh sportifitas dan vitalitas khas mahasiswa, mulai pengembangan piranti cerdas, program-program aplikasi, desain web, pengembangan game, permainan bisnis, seminar hingga karya tulis. Acara yang digelar 6-8 Oktober 2010 ini mengumpulkan potensi-potensi kreatif dari mahasiswa informatika dan teknik komputer dari seluruh Indonesia memamerkan seluruh kompetensi yang mereka miliki dan memberi kita harapan bahwa besok, lusa atau beberapa tahun ke depan, bangsa kita akan makin melek IT.

Simaklah mereka yang membuat pengembangan permainan bertema pendidikan sejarah, website koordinasi informasi bencana alam, atau piranti-piranti cerdas yang memudahkan tugas-tugas kehidupan manusia, dibawakan dan dipresentasikan dengan penuh percaya diri dan berenergi. Sangat mengharukan, terlebih bila itu semua akan banyak memberi kontribusi ke masyarakat. Meskipun masih berbentuk transisi dari teknologi yang telah tersedia ke teknologi yang punya daya lompat tapi apa yang terjadi di even ini hari ke hari memberikan kesadaran lain. Dari puluhan atau mungkin kampus yang memiliki cendekiawan di bidang ini bisa lebih terlibat ke masyarakat dan berperan dalam distribusi informasi dan teknologinya melalui apa yang telah mereka kuasai dengan sangat baik. Inilah perayaan dan parade kecerdasan yang hingar bingar.

Tak semua pihak bisa terpuaskan. Salah satunya adalah yang menyerang server panitia dengan layar gelap Patroli Kampus, membawa-bawa nama Tuhan dan Nabi-Nya untuk melampiaskan kekecewaannya, entah pada apa. Semua pihak, meskipun kesal, menganggapnya selingan. Sebuah intermeso dari orang yang gemas dan mengekspresikannya dengan cara yang kurang sedap.

Saat jeda makan, beberapa juri, para profesor dari perguruan-perguruan tinggi terbaik di Indonesia asyik mendiskusikan Tuhan, Adam dan alam semesta seperti hangatnya teh tarik yang mereka seduh sebelumnya. Temponya yang naik turun dan epileptik tentang isu-isu pertentangan sains dan agama ternyata selingan yang meningkatkan selera makan. Sebuah intermeso. Dan berada di sini, bila Anda ingin mendengar yang paling bombastis, adalah sebuah kesenangan dan kehormatan sekaligus. /ram

CITYLOVER PARADE

Citylover Parade

Di Surabaya, ada 67 orang pemuda pemudi dengan 10 kota kabupaten yang berbeda membagi pemikiran mereka tentang bagaimana sebuah kota dapat diperlakukan dengan lebih layak secara grafis. Akan panjang bila menyebut nama mereka, tapi kota-kota itu adalah Blitar, Mojokerto, Bangkalan, Malang Kota, Malang Kabupaten, Batu, Lamongan, Ponorogo, Bojonegoro dan Gresik.

Melihat apa yang disajikan secara visual, anggaplah ini oase yang menyejukkan mata, bahwa sebuah kota bisa sangat berkarakter secara visual dibandingkan hanya ditampilkan dalam template kop surat pemerintah daerah masing-masing. Ini adalah ide-ide yang berhamburan selama 4 bulan, memenuhi kepala, ruang batin dan pikiran mereka, bahkan juga berebut uang saku. Sejak survey dimulai 3 bulan yang lalu, 10 tim ini melakukannya secara mandiri. Apa lagi yang perlu dibuktikan untuk sebuah cinta?

Blitar mencoba mengangkat kekuatan historisnya yang berhubungan dengan pendiri republik ini, sehingga di setiap elemen brandnya aspek kekentalan sejarah akan keberadaan Bung Karno di sana menjadi bangunan citra yang kuat. Mereka membangunnya ke dalam lingkung grafis baik di museum maupun makam Bung Karno hingga buklet-buklet informasi tentang Blitar.

Lalu lihatlah Ponorogo, sebuah kota yang dikenal dengan Reog Ponorogo. Komponen-komponen visual dalam budaya masyarakat Ponorogo sangant kuat untuk diterjemahkan menjadi sebuah identitas visual. Maka jadilah mata jeli imajiner dari dadak merak dan ingatan Anda pada Reog segera tersulut. Tim ini bahkan mengembangkan typeface untuk semua program komunikasinya. Two thumbs up, maybe more.

Selanjutnya Mojokerto, mencoba mengangkat kejayaan Majapahit sebagai sebuah perjalanan historis yang menginspirasi peziarahnya. Elemen-elemennya dipinjam dari simbol-simbol masa lalu, bintang majapahit, candi dan warna bata yang membangun tubuh candi. Hangat tapi dingin.

Bangkalan lain lagi. Bila sebelumnya memainkan masa lalu, tim ini mencoba menatap masa depan lewat keberadaan Jembatan Suramadu. Ekspresi visual yang kemudia muncul adalah bagaimana masyarakat Bangkalan, wisatawan hingga investor melihat keberadaan Suramadu sebagai sebuah peluang mengangkat perekonomian masyarakat. Gagasan ini kemudia direspon dalam berbagai even untuk mengelola citra Bangkalan sebagai lahan investasi yang seksi. Beberapa wakil dari pemerintah Bangkalan yang hadir tampak bersemangat mewujudkan gagasan-gagasan ini.

Sementara itu, adalah 3 kota bersaudara, Malang Kota, Malang Kabupaten dan Batu yang dikenal sebagai Malang Raya. Tantangan buat ketiga tim yang berkutat dengan ketiga kota ini adalah mengembangkan diferensiasi yang khas dan unik. Riset ketiga kelompok ini diharapkan dapat membuat perbedaan tersebut. Malang Raya sebelumnya dikenal sebagai tempat berwisata karena begitu banyak objek wisata yang ada di sana. Tetapi secara geografis, terutama setelah Batu menjadi kota mandiri, Malang Kabupaten kurang dapat menjual potensinya sebagai kota wisata. Demikian pula Malang Kota. Hal ini kemudian dijawab oleh kelompok ini, Malang Kota diposisikan menjadi kota edukasi dengan gaya visual yang bervisi global, Malang Kabupaten dengan kekuatan alamnya serta Batu yang secara geografis diuntungkan dengan keberadaan objek-objek wisata di sana. Dampaknya secara visualpun akhirnya dapat dirasakan.

Lalu Lamongan, kota dengan berbagai potensi yang membuat tim ini kesulitan mengangkat brandline yang dominan. Masyarakat mengenalnya sebagai tempat berwisata, lumbung padi, potensi perikanan yang besar serta kekhasan wisata kulinernya. Apa yang kemudian tersaji secara visual tampak lebih dekat pada Lamongan sebagai kota wisata, menghibur, menyegarkan. Segar seperti brandline yang mereka ciptakan spLAshing LAmongan.

Kota selanjutnya yang dieksplorasi adalah Bojonegoro. Mengangkat potensi kriya kayu yang dimiliki, tim ini mengalami ketegangan yang sama dengan Lamongan. Potensi wisata yang sebenarnya belum begitu kuat tetapi menjadi hal yang dibanggakan masyarakatnya. Salah satunya dengan membuat landmark Kayangan Api di pusat kota.

Akhirnya Gresik, kota yang memosisikan diri sebagai hunian dan pemukiman, terutama karena letaknya yang dekat dengan Surabaya. Selain itu, banyaknya ragam etnik yang berkembang di Gresik menguatkan pluralitas masyarakatnya. Untuk itu konsep harmoni yang diangkat merupakan jawaban atas perbedaan-perbedaan itu.

Segala curah ide dan gagasan ke 67 jagoan ini dapat dilihat sebagai masukan bagi setiap pemerintah daerah dalam mengembangkan pencitraan di wilayahnya. Gagasan-gagasan murni dan orisinal ini memang belum mempertimbangkan benturan-benturan dengan birokrasi, penerimaan masyarakat, tokoh-tokoh daerah maupun anggaran, tetapi sebuah gagasan yang dibangun di kampus bukan lagi sebuah menara gading, melainkan upaya untuk menjawab problem yang riil di masyarakat.

Bravo!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.